Buku
Ideologi Kaum Intelektual terdiri dari 5 bagian. Bagian pertama adalah
pengantar dari Jalaluddin Rakhmat. Di bagian ini, Jalaluddin rakhmat memulai
pengantarnya dengan sebuah narasi. Tragedi yang terjadi 10 Muharram 61
Hijriyah. Ritual peringatan wafatnya Cucu Rasulullah SAW. Sebuah peristiwa yang
dikenal dalam doktrin syiah sebagai Peristiwa Karbala. Jalaluddin Rakhmat
dengan piawai memainkan emosi pembaca lewat peristiwa ini kemudian dibarengi
dengan kemunculan dan kepahlawanan Al Syari’ati sebagai penggerak Revolusi
Islam di Iran, Tahun 1978. Sebuah revolusi yang menumbangkan rezim Shah Pahlevi
kepada kepemimpinan seorang Ayatollah. Revolusi yang berdarah. Revolusi yang
mendengungkan “Mihrab Syi’ah adalah Mihrab Darah!”. “Dalam hidup syiah, tiap
hari adalah Asyura; setiap tempat menjadi Karbala”.
MENOLAK PAHAM KOMUNIS
Sunday, 22 October 2017
Syamsuar Hamka (Penulis Buku Api Tarbiyah)
Pernah
tercatat dalam sejarah kelam Bangsa Indonesia, tragedi pengkhianatan G.30-S
tanggal 30 September
1965 di Jakarta maupun pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948. Percobaan kudeta
bersenjata yang kemudian dikenal sebagai peristiwa Lubang Buaya tidak lain dilakukan
oleh Partai Komunis Indonesia dan antek-anteknya di tahun 1965 dengan memanfaatkan
rezim Orde Lama.
MENGISI KEMERDEKAAN DENGAN PENDIDIKAN ADAB
Saturday, 16 September 2017
Syamsuar Hamka
Tadi pagi
sebelum masuk kantor saya melihat 4 orang bocah menyanyikan lagu Indonesia Raya
sambil mengerek bendera merah putih. Bendera itu sebenarnya sudah beberapa hari
dipasang, namun bocah – bocah ini menurunkannya kembali kemudian membuat
semacam prosesi penaikan bendera. Tiga orang yang mengerek, satu lainnya hormat
dengan tegap. Seolah – olah ia adalah komandan upacara yang memimpin ribuan
peserta upacara di belakangnya.
Saya tidak tahu
apa alasan mereka melakukan itu. Mungkin karena tersuasanakan oleh lorong –
lorong di Makassar yang dipenuhi bentangan bendera serta jalanan yang dicat
berbagai warna. Ditambah lagi mereka mungkin sempat menyaksikan suasana
persiapan kemerdekaan di layar TV.
Akan tetapi,
apa pun alasannya, saya merasa salut dengan bocah – bocah ini. Mereka sudah
mengenal tentang kemerdekaan, serta simbol – simbolnya. Setidaknya kita bisa
berharap bahwa generasi – generasi seusia mereka tidak luntur rasa nasionalisme
serta kecintaan akan tanah air Indonesia.
Subscribe to:
Posts (Atom)


