Cari

3 ALASAN, MENGAPA KAMI IKUT PARADE TAUHID (Bag-2)

Wednesday, 12 August 2015




#Alasan Kedua: Kesadaran Politik

Diobok-oboknya suara hak pilih umat islam, dikritisinya penerapan syariat islam Aceh, wacana penghapusan kolom agam KTP, wacana speaker masjid polusi udara, dibuatnya standar berdoa non-agama di sekolah, digugatnya undang-undang Pernikahan Sesama Agama, divotingnya penetapan hukum Miras di Parlemen, dilarangnya menyembelih Kurban di Sekolah dan Pawai Takbir di Jakarta Serta terpilihnya pemimpin non-muslim di Ibu Kota Negara mayoritas Muslim, dan puncaknya, Kalahnya calon presiden Usungan Koalisi Partai Islam (Reformis) dan terpilihnya Presiden usungan Partai ideologi Marhaenisme berlambang moncong putih, membuat Umat islam sadar bahwa Politik tidak bisa ditinggalkan. Sebab mereka akan selalu menjadi korban Test The Water. Dan sedikit demi sedikit akan dikuasai dan ditaklukkan. Mereka semakin sadar bahwa di saat yang sama, saat mereka mengkaji Qur’an, membaca tafsir dan bertadabbur dengannya, serta saat mereka rukuk dan sujud, ideologi yang merusak juga sementara menjadi-jadi melakukan makar dan konspirasi merebut kekuasaan. Menduduki jabatan strategis, dan selanjutnya menindas hak-hak umat islam. Palestina, Muslim Rohingya Myanmar, Muslim Burma dan Kashmir, Muslim Cina, dan di belahan bumi mana pun itu, umat islam selalu dipojokkan karena tidak adanya ‘kekuasaan’. Sangat tepatlah, jika ternyata “Posisi menentukan Hasil”. Kekuatan dan Pengaruh bergantung pada Posisi dan Kekuasaan.

TIGA ALASAN, MENGAPA KAMI IKUT PARADE TAUHID (Bag-1)



Abu Adlan Faatih


Lewat situs resminya paradetauhid.id, Parade Tauhid yang dilaksanakan 16 Agustus 2015 mengutip pernyataan Ust. Bachtiar Nasir, bertujuan :
Pertama #Parade_Tauhid_Indonesia dalam rangka merealisasikan Amanah Kongres Umat Islam VI di Yogyakarta. Di mana Kongres Umas Islam Indonesia VI di Yogyakarta mengamanahkan : 1. Penguatan Politik Islam. 2. Penguatan Ekonomi Islam. 3. Penguatan sosial budaya Islam.
Kedua #Parade_Tauhid_Indonesia dalam rangka mensyukuri nikmat kemerdekaan Indonesia ke 70,
Ketiga #Parade_Tauhid_Indonesia dalam rangka Halal bi Halal Nasional dan Halal Bi Halal antara umat dan tokohnya.
lebih rinci, tujuan parade tauhid indonesia disebutkan agar :
1.       Tumbuhnya kembali kesadaran pentingnya tauhid bagi setiap muslim dalam menjalani kehidupan individu, keluarga, bermasyarakat, dan bernegara
2.       Tumbuhnya rasa syukur atas anugrah kemerdekaan yang telah Allah limpahkan kepada bangsa Indonesia, serta halal bil halal akbar ummat Islam
3.       Terciptanya langkah awal konsolidasi umat Islam dalam upaya membangun masyarakat bermartabat, sebagai tindak lanjut Kongres Umat Islam Indonesia VI tahun 2015
4.       Terbangunnya ukhuwah Islamiyah seluruh elemen ummat Islam, sehingga menjadi potensi dan energi positif bagi upaya mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Pendahuluan

Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.
(QS an-Nisaa’: 36)

Ketuhanan Yang Maha Esa.
(Sila Pertama Pancasila)

Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya
(Mukadimah UUD 1945)

Di tengah usaha umat islam untuk bangkit dari keterpurukan ekonomi dan politik, masih ada saja yang tetap gemar menebarkan syubhat, dan menghembuskan keraguan-raguan atas gerakan dan keyakinan mereka. Seperti kata Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, ide dan pemikiran seperti air, mengalir dan cepat merembes. Menghentikan geraknya tidak dapat dilakukan semata-mata hanya dengan kekerasan. Ide harus dilawan dengan ide. Tinta harus dilawan dengan tinta.
Kesadaran politik umat islam adalah hal yang baru. Jika di zaman reformasi gerakan islam tidak mengenal istilah ‘manhaj’, mereka hanya mengenal organisasi. Sementara di zaman sekarang, manhaj tumbuh berkembang biak seiring dengan terbukanya keran demokrasi. Dulu, rasa persatuan dan kesatuan lebih didahulukan untuk melawan satu musuh bersama, ‘rezim otoriter’. Tidak peduli siapa pun ‘ustadz’ rujukannya. Akan tetapi, pasca reformasi gerakan islam berdiferensiasi menjadi berbagai bentuk, ide, dan metode gerakan. Semua itu terkait dengan sudut pandang para pendirinya dalam memandang ‘problematika umat’ dan bagaimana ‘solusi’ mengatasinya.

JADILAH SEPERTI HAJAR !

Monday, 10 August 2015





Abu Adlan Faatih[1]


Bagi seorang da’i, hidup adalah perjuangan. Meniti jejak para Rasul yang berjuang menegakkan agama. Konsekuensinya tidak mudah. Ada banyak godaan yang akan menghampiri. Hidup serba hemat, atau bahkan kekurangan.
Satu hal yang tidak mudah adalah meninggalkan istri dan anak-anak. Pasalnya, seorang da’i memiliki amanah untuk anak dan istrinya. Ia wajib memberikan perlindungan dan nafkah lahir batin bagi mereka. Akan tetapi, bagaimana jika ia mendapat amanah untuk menjadi da’i pedalaman ?. Semua itu tentu haruslah ditinggalkan.
 

Iklan Buku

Followers

Bincang-Bincang