Cari

Tradisi Menghafal dan Otentitas Wahyu[1]

Thursday, 29 May 2014



Syamsuar Hamka[2]

Prolog
“Sebenarnya, Al-Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim” (Q.S Al-Ankabut: 49)
Menghafal, tradisi yang telah berlangsung sejak awal kedatangan islam sendiri (shadri al-islam). Bahkan sebelum itu, orang-orang arab jahiliah merekam pengetahuan (karya sastra dan nasab) dengan menghafal. Diantara syair-syair yang banyak dinukilkan lewat hafalan adalah syair-syair yang ditulis Imri’al Qais, Zuhair Ibn Abi Sulma, atau Khutbah Hani’ Bin Qabishah Asy-Syaibani. Dengan tradisi itu pula, seseorang bisa dilacak keturunannya sampai 21 tingkatan. Oleh sebab itu, sangat tepat, jika Al-Qur’an itu diturunkan di tanah Arab.
Pada zaman Rasulullah SAW, tradisi itu terus terjaga hingga datang Al-Quran yang menggantikan syi’ir-syi’ir dan amtsal, atau hikam  orang-orang Arab. Hampir seluruh sahabat di sisi Rasulullah SAW adalah para Huffadz. Mereka mengambil hafalan, mentadabburi dan mempelajari isinya langsung dari Rasulullah yang juga dinukil Rasulullah dari Jibril AS. 

RISALAH KEPADA PARA (CALON) PEMIMPIN

Sunday, 30 March 2014





Potongan-5

Apa yang Harus Dikerjakan
Saya tidak akan berbicara banyak tentang bagaimana merealisasikannya. Saya berikan tantangan ini kepada para aktivis dakwah untuk berpikir, dan bekerja dalam mewujudkannya. Karena seperti itulah aktivis. Ia punya dua potensi itu serta daya dobrak untuk perubahan.
1.       Perkuat 3 Basis Utama sebagai Core Player
a.    Murabbi
b.   Pengurus
c.    Kader
Kata kuncinya, pengembangan kualitas. Tujuannya, Murabbi punya kepribadian Murabbi sejati. Halaqahnya harus produktif.
Satu stressing, bahwa kekurangan kita adalah membatasi pelatihan dengan ceramah dan muhadharah. Padalah harus kita bedakan, yang mana majelis menuntut ilmu, dan yang mana majelis pengembangan kepribadian. Jika suatu saat kita mendapati anggota tidak mampu mengerjakan, maka jangan salahkan mereka karena kita hanya memberi motivasi, bukan melatih (train). Kita paham bahwa bertambahnya ilmu akan merubah cara pandang. Berubahnya cara pandang akan merubah perilaku. Tapi semua itu tidak akan teruji sebelum angota tubuhnya meresakan secara langsung (kinestetik). Itu berarti bahwa, pelatihan harus dikembangkan menjadi betul-betul pelatihan. Diantara kekurangan yang lain adalah terlalu membatasi makna ilmu dengan ilmu syar’i. Mungkin dengan alasan perkataan ulma, bahwa yang dimaksud dengan ilmu adalah kalamullah, kalamurrasul, dan kalamu ash-shahabah. Selain itu bukan ilmu. Lalu apakan dengan alasan itu kita tidak perlu lagi belajar ilmu umum, karena dia bukan ilmu. Apakah kita tidak perlu lagi belajar manajerial dan keorganisasian jika itu bukan ilmu. 

RISALAH KEPADA PARA (CALON) PEMIMPIN




Potongan-4


Bagian 2- Risalah Madinah
                Setelah 13 Tahun membina iman, maka fase selanjutnya adalah membangun kekuatan ijtima’ (masyarakat). Memperkuat basis sosial untuk melakukan visi jihad dan perjuangan. Di bagian ke-2 ini saya wasiatkan kepada mereka yang berusaha untuk mengikuti perjuangan para Rusul dan Anbiya’.

1.    Bangun Kepribadian
Menjadi calon pemimpin dakwah bukanlah hal yang mudah. Ia butuh konsentrasi. Karena dakwah sama halnya dengan memimpin sebuah perusahaan. Butuh kemampuan manajerial. Tidak akan berkembang tanpa pembelajaran terus-menerus (long life education). Dan seorang pembelajar sejati bukan hanya mengambil pelajaran saat ia di kelas, sekolah, atau majelis. Tapi ia mampu menciptakan sendiri setiap momentum belajarnya. Setiap yang terjadi di sekeliling kita mengandung arti dan makna, kata seorang pemateri Training[1]. Karena itu kalau orang-orang syiah mengatakan, setiap tanah adalah Karbala, dan setiap setiap hari adalah Asyura, maka bagi seorang pembelajar sejati, setiap kejadian adalah pelajaran dan setiap hari adalah pembelajaran.
Seorang yang menjadi pelaku dakwah, hanya akan mampu mengemban dakwah dengan kapasitas kepemimpinan yang tangguh. Mereka punya optimisme. Daya juang. Hirs (semangat). Visi dan tujuan yang jelas. Kemampuan mengorganisir. Fikrah dan pemahaman yang mendalam. Memiliki wawasan yang luas serta kepribadian yang mapan.
Dan semua itu, hanya dapat dicapai jika tidak menutup diri untuk belajar. Membuka diri untuk hal-hal yang baru. Serta gigih memegang hal yang prinsip dalam manhaj dan sistem gerakan.
Dakwah tidak bisa dipikul oleh orang-orang yang selalu putus asa dalam amal. Tidak punya tekad. Tidak punya visi yang jelas atau hanya sekedar ikut-ikutan. Para pejuang harus punya multi-kepribadian. Dapat diterima oleh seluruh lapisan mad’unya.
Zaman selalu memiliki tantangan yang berbeda. Jika dulu dakwah menghadapi invasi pemikiran Filsafat helenisme (Yunani), sekarang yang dihadapi adalah tantangan dari dalam -yang mengaku- islam sendiri seperti syiah dan aliran sesat lainnya. 
 

Iklan Buku

Followers

Bincang-Bincang