Cari

PUSJARWIL I LIDMI KONSOLIDASI KE SURABAYA

Friday, 7 February 2014


(6/2/13-LPaQ) - Thuk…Thuk… Thuk…Thuk…………. Suara roda kereta api terdengar bising di telinga. Stasiun Lempuyangan, Kota Yogyakarta, pagi pukul 09.00, kereta Ekonomi/C Logawa  sesuai jadwal akan berangkat menyusuri rel menuju Surabaya. Tiga orang kader LIDMI akan segera menempuh perjalanan selama enam jam, menuju kota terbesar kedua di Indonesia itu. Stasiun Gubeng II, Kota Surabaya.
Di sepanjang perjalanan hanya terlihat hamparan sawah yang begitu luas. Sangat terlihat betapa negeri ini kaya. Sebuah potensi terpendam yang masih saja tidur. Perjalanan ditempuh selama enam jam, melewati beberapa stasiun kecil, seperti Madiun (tempat terjadinya tragedi G30S/PKI), Jombang (Kota pesantren), dan stasiun Mojokerto . selama di kereta, para utusan Kader LIDMI menikmati perjalanan. Sesekali  mereka membuka What’s Up dan memantau perkembangan berita di Group LIDMI. Yang lainnya sibuk membaca buku, Grand Design, karya Stephen Hawking dan Leonard Mlowdinow. Sebuah karya yang memperbincangkan campur tangan tuhan dalam rancang agung alam semesta.

“KADER LIDMI IKUT TIM AQL BANTU KORBAN BANJIR”

Sunday, 26 January 2014

(Bekasi-LPQ) Hingga ahad, 26 Januari 2014, tepatnya di Desa Tanjung Air, Kecamatan babelan, Kab. Bekasi masih terendam banjir. Air setinggi lutut orang dewasa menggenangi sekitar lima hektar wilayah di desa tersebut. Menurut farhan, warga setempat, banjir kali ini adalah banjir terbesar selama tujuh tahun terakhir.


Melihat kondisi ini, tim dari AQL-Centre dengan tim yang terdiri dari 40 orang turun membantu warga dengan membawa makanan dan obat-obatan. Nampak warga sangat antusias mendengarkan tausiyah dari ust. Yeri Kusaeri sebagai koordinator lapangan sebelum penyerahan bantuan. Selain itu, nampak juga seorang kader LIDMI (lingkar Dakwah Mahasiswa Indonesia) yang ikut serta dalam bakti sosial tersebut. Adalah Abu Al-Faatih yang saat ini sedang menjalani studinya di Ma’had Ar-rahman Qur’anic College, Bogor. “saya turun langsung membantu warga, paling tidak juga bagian dari gerakan LIDMI di pulau Jawa”, tandasnya.

LANGIT (TANPA) KEMBANG API

Monday, 30 December 2013







Bagi yang punya budget, malam tahun baru bakar-bakar ayam
Bagi yang budget-nya kurang, bakar-bakar ikan
Bagi yang budget-nya lebih kurang lagi, bakar-bakar jagung
Bagi yang tidak punya Budget, bakar-bakar sampah
(MC Tabligh Akbar, MILAD 5 AQL-Islamic Centre)


Kita hidup berpijak di atas tanah yang sama, di bawah naungan langit yang sama. Yang berbeda adalah penyikapan kita terhadap keduanya. Dua orang tahanan yang melepaskan pandangannya di balik jeruji, ada yang bersedih melihat langit. Karena sudah kurang lebih 120 kali ia melihat purnama. Yang berarti sudah 10 tahun mendekam. Tapi tahanan yang lain yang melihat purnama yang sama, malah bergembira. Karena purnama itu adalah adalah kesempatan untuk menggubah syair tentang langit dibalik tembok dan jeruji selama bertahun-tahun.
Benda yang sama, namun penyikapan yang berbeda akan menghasilkan efek yang berbeda. Objek boleh sama, tapi angle shoot  yang berbeda akan menghasilkan kualitas rekam gambar, kesan dan pesan yang berbeda. Begitu kata fotografer.
Dalam hal sederhana, “Ayam menyeberang jalan”. Para pemikir punya jawaban yang berbeda-beda pula. Mungkin kalau kita menanyakannya “Mengapa ayam  menyeberang jalan ?”.

 

Iklan Buku

Followers

Bincang-Bincang