Cari

RESENSI BUKU IDEOLOGI KAUM INTELEKTUAL (Bagian 1)

Monday, 12 November 2018




Buku Ideologi Kaum Intelektual terdiri dari 5 bagian. Bagian pertama adalah pengantar dari Jalaluddin Rakhmat. Di bagian ini, Jalaluddin rakhmat memulai pengantarnya dengan sebuah narasi. Tragedi yang terjadi 10 Muharram 61 Hijriyah. Ritual peringatan wafatnya Cucu Rasulullah SAW. Sebuah peristiwa yang dikenal dalam doktrin syiah sebagai Peristiwa Karbala. Jalaluddin Rakhmat dengan piawai memainkan emosi pembaca lewat peristiwa ini kemudian dibarengi dengan kemunculan dan kepahlawanan Al Syari’ati sebagai penggerak Revolusi Islam di Iran, Tahun 1978. Sebuah revolusi yang menumbangkan rezim Shah Pahlevi kepada kepemimpinan seorang Ayatollah. Revolusi yang berdarah. Revolusi yang mendengungkan “Mihrab Syi’ah adalah Mihrab Darah!”. “Dalam hidup syiah, tiap hari adalah Asyura; setiap tempat menjadi Karbala”.

MENOLAK PAHAM KOMUNIS

Sunday, 22 October 2017




Syamsuar Hamka (Penulis Buku Api Tarbiyah)


Pernah tercatat dalam sejarah kelam Bangsa Indonesia, tragedi pengkhianatan G.30-S tanggal 30 September 1965 di Jakarta maupun pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948. Percobaan kudeta bersenjata yang kemudian dikenal sebagai peristiwa Lubang Buaya tidak lain dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia dan antek-anteknya di tahun 1965 dengan memanfaatkan rezim Orde Lama.

MENGISI KEMERDEKAAN DENGAN PENDIDIKAN ADAB

Saturday, 16 September 2017



 Syamsuar Hamka


Tadi pagi sebelum masuk kantor saya melihat 4 orang bocah menyanyikan lagu Indonesia Raya sambil mengerek bendera merah putih. Bendera itu sebenarnya sudah beberapa hari dipasang, namun bocah – bocah ini menurunkannya kembali kemudian membuat semacam prosesi penaikan bendera. Tiga orang yang mengerek, satu lainnya hormat dengan tegap. Seolah – olah ia adalah komandan upacara yang memimpin ribuan peserta upacara di belakangnya.
Saya tidak tahu apa alasan mereka melakukan itu. Mungkin karena tersuasanakan oleh lorong – lorong di Makassar yang dipenuhi bentangan bendera serta jalanan yang dicat berbagai warna. Ditambah lagi mereka mungkin sempat menyaksikan suasana persiapan kemerdekaan di layar TV.
Akan tetapi, apa pun alasannya, saya merasa salut dengan bocah – bocah ini. Mereka sudah mengenal tentang kemerdekaan, serta simbol – simbolnya. Setidaknya kita bisa berharap bahwa generasi – generasi seusia mereka tidak luntur rasa nasionalisme serta kecintaan akan tanah air Indonesia.
 

Iklan Buku

Followers

Bincang-Bincang