Cari

KESATUAN ILMU DAN IMAN

Monday, 24 August 2015

 


“Apakah kamu yakin bahwa Tuhan itu ada?”, kata seorang pemateri.
“Yakin”, jawab kami serentak.
“Apa buktinya ?”. Pemateri bertanya kembali.
“Ya… adanya langit, bumi, bintang, dan kita semua. Karena kita adalah ciptaannya”, jawab kami kembali.
“Kenapa kalian bisa yakin bahwa yang menciptakan itu adalah Tuhan ?. Kan bisa saja itu tercipta dengan sendirinya. Tidak ada bukti yang jelas itu diciptakan oleh Tuhan”. Kata pemateri kembali menyudutkan.

KRITIK ATAS ‘PARADIGMA ILMIAH’

Saturday, 22 August 2015



                                                               
Pada tulisan yang lalu kita menyatakan bahwa chaos yang terjadi dalam kondisi perdaban dunia hari ini disebabkan oleh kesalahan paradigma. Hal itu bisa dilihat dari pendapat Prof. Ahmad Tafsir dalam buku Filsafat Umum-nya.
Beliau menyatakan bahwa, dari analisis filsafat dan sejarah kebudayaan kita mengetahui bahwa budaya barat disusun dengan menggunakan hanya satu paradigma, yaitu paradigma sains (scientific paradigm). Paradigma ini disusun berdasarkan warisan Descartes dan Newton. Warisan dua tokoh ini merupakan inti pembahasan buku Capra. Ia menyatakan abhwa paradigm yang diturunkan dari Cartesian dan Newtonian itulah yang menghasilkan paradigm yang digunakan dalam mendesain budaya barat sekarang. Kesalahan terjadi karena paradigm itu tidak melihat alam dan kehidupan ini secara utuh menyeluruh (whole-ness), paradigm itu hanya melihat alam ini pada bagian yang empiriknya saja.[1]

SAINS BERBASIS TAUHID

Thursday, 20 August 2015




Dalam satu kuliahnya, Dr. Abbas Mansur Tamam menjelaskan bagaimana respon intelektual muslim menghadapi hegemoni ilmu yang lahir dari peradaban barat. Bahwa antara Islam dan barat ada demarkasi sistem keilmuwan yang berbeda terkait dengan filosofi, pandangan dan kebudayaan yang melahirkan ilmu pengetahuan.
Dalam buku The Postmodern Condition: a Report on Knowledge yang ditulis Jean Francis Lyotard, mengungkapakan pemikirannya tentang kedudukan ilmu pengetahuan pada abad ini, khususnya tentang cara ilmu diabsahkan melalui “naratif besar” (grand narrative) seperti kebebasan, kemajuan dan emansipasi. Naratif besar menurutnya telah mengalami nasib yang sama dengan naratif-naratif besar sebelumnya seperti agama, negara bangsa, dan kepercayaan tentang keunggulan barat. Dengan kata lain, dalam abad ilmiah ini, naratif-naratif besar itu dipersoalkan tentang peranan dan tahap keshahihannya[1].
 

Iklan Buku

Followers

Bincang-Bincang