Abu Adlan Faatih[1]
Bagi
seorang da’i, hidup adalah perjuangan. Meniti jejak para Rasul yang berjuang
menegakkan agama. Konsekuensinya tidak mudah. Ada banyak godaan yang akan
menghampiri. Hidup serba hemat, atau bahkan kekurangan.
Satu
hal yang tidak mudah adalah meninggalkan istri dan anak-anak. Pasalnya, seorang
da’i memiliki amanah untuk anak dan istrinya. Ia wajib memberikan perlindungan
dan nafkah lahir batin bagi mereka. Akan tetapi, bagaimana jika ia mendapat
amanah untuk menjadi da’i pedalaman ?. Semua itu tentu haruslah ditinggalkan.


