Cari

BERAWAL DARI KETIDAKADILAN

Thursday, 19 February 2015


Abu Adlan Faatih


Salah satu ajaran penting setiap agama adalah larangan berbuat zalim. Wujud kezaliman beraneka ragam, mulai dari perkataan menyakitkan, perbuatan melukai orang, dan perilaku negatif seperti sabotase, curang, menipu, mengurangi timbangan, tidak amanah, korupsi, serta kolusi. Dalam perspektif islam sendiri, kezaliman memiliki defenisi yang begitu luas. Menurut para ulama, kezaliman terbagai menjadi dua jenis.

VALENTINE'S DAY DALAM SOROTAN

Friday, 6 February 2015



Abu Fath el_Faatih



Mukadimah
Banyak kalangan pasti sudah mengenal hari valentine (Bahasa Inggris: Valentine’s Day). Hari tersebut dirayakan sebagai suatu perwujudan cinta kasih seseorang. Perwujudan yang bukan hanya untuk sepasang muda-mudi yang sedang jatuh cinta. Namun, hari tersebut memiliki makna yang lebih luas lagi. Di antaranya kasih sayang antara sesama, pasangan suami-istri, orang tua-anak, kakak-adik dan lainnya. Sehingga valentine’s day biasa disebut pula dengan hari kasih sayang.

Sejarah Valentine
The World Book Encyclopedia, Vol.20 menyebutkan:
“Some trace it ti an ancient roman festival called Lupercalia. Other experts connect the event with one or more saints early Christian Church. Still others link it with an old English belief that birds choose their mates on february 14. Valentine’s day probably came from a combination of all three of those sources-plus the belief that spring is a time for levers”

SARJANAWAN, KAMPUS DAN BUDAYA ILMU

Saturday, 17 January 2015


 
Syamsuar Hamka[1]

Kampus memiliki peran strategis dalam pembangunan bangsa. Takdir[2] kehidupan jutaan umat manusia dapat dirubah lewat peran dari institusi-institusi keilmuwan. Dari Hukum Gerak, Hukum Gravitasi, hingga teori partikel elementer yang dikembangkan dari Democritus hingga Feynman, paradigma kehidupan jutaan bahkan milyaran umat manusia menjadi berubah. Michael H. Hart dalam penelitiannya terhadap kurang lebih 20 Ribu tokoh berpengaruh, dengan berani mengurut 100 tokoh diantaranya dengan acuan “seberapa berpengaruh”. Hasilnya buku 100 The Most Influence people in History[3] begitu diminati dan (seakan-akan) mampu menembus batas-batas kepercayaan. Dari 100 tokoh itu, Ia mengaku bahwa 95 % diantaranya adalah akademisi yang belajar di universitas, sekolah, atau institusi sebelum nama ‘sekolah’ dikenal seperti zaman Hommer atau Fir’aun.

 

Iklan Buku

Followers

Bincang-Bincang