Cari

SARJANAWAN, KAMPUS DAN BUDAYA ILMU

Saturday, 17 January 2015


 
Syamsuar Hamka[1]

Kampus memiliki peran strategis dalam pembangunan bangsa. Takdir[2] kehidupan jutaan umat manusia dapat dirubah lewat peran dari institusi-institusi keilmuwan. Dari Hukum Gerak, Hukum Gravitasi, hingga teori partikel elementer yang dikembangkan dari Democritus hingga Feynman, paradigma kehidupan jutaan bahkan milyaran umat manusia menjadi berubah. Michael H. Hart dalam penelitiannya terhadap kurang lebih 20 Ribu tokoh berpengaruh, dengan berani mengurut 100 tokoh diantaranya dengan acuan “seberapa berpengaruh”. Hasilnya buku 100 The Most Influence people in History[3] begitu diminati dan (seakan-akan) mampu menembus batas-batas kepercayaan. Dari 100 tokoh itu, Ia mengaku bahwa 95 % diantaranya adalah akademisi yang belajar di universitas, sekolah, atau institusi sebelum nama ‘sekolah’ dikenal seperti zaman Hommer atau Fir’aun.

MEMBANGUN KETAHANAN NASIONAL

Wednesday, 19 November 2014



Abu Adlan Faatih


Dalam orientasi dan Pembekalan Peserta Program Kaderisasi Ulama DDII-BAZNAS di Ciawi, Bogor, KH Syuhada Bahri menuturkan bahwa, “ada empat orang penggagas Organisasi Kesatuan Islam (OKI) dari beberapa negara Islam. Raja Faishal dan Syaikh Bin Baz dari Saudi Arabia, Abu Hasan An-Nadawi dari India, dan Abul A’la al-Maududi di Pakistan, dan Dr. Mohammad Natsir, dari Indonesia”. Saya merasa terkejut, bahwa ternyata seorang tokoh dunia yang sudah berpikir bagaiamana mengembangkan dan mempersatukan dakwah Islam di tingkat dunia sudah diinisiasi oleh Dr. Mohammad Natsir. Dan ternyata jika ditelusuri, seorang tokoh Mohammad Natsir, tentu tidak lahir begitu saja. Proses itu sudah dimulai dari masuknya Islam di Indonesia. Abad ketujuh Masehi, dalam teori yang dikemukakan HAMKA.

3 EPISODE TAUHID (2-Habis)

Wednesday, 22 October 2014



Memanfaatkan Momentum
Penduduk Babilonia memiliki tradisi, setiap tahunnya mereka keluar kota beramai-ramai pada suatu hari raya yang mereka anggap sebagai hari keramat. Berkemah dan membawa perbekalan untuk beberapa hari. Mereka bersuka ria dan bersenang-senang sambil meninggalkan kota-kota mereka kosong dan sunyi. Mereka berseru dan mengajak semua penduduk agar keluar meninggalkan rumah dan turut beramai -ramai menghormati hari-hari suci itu.
"Inilah dia kesempatan yang kunantikan." kata hati Ibrahim tatkala melihat kota sudah kosong dari penduduknya, sunyi senyap tidak terdengar kecuali suara burung-burung yang berkicau, suara daun-daun pohon yang gemerisik ditiup angin kencang. Dengan membawa sebuah kapak ditangannya ia pergi menuju tempat beribadatan kaumnya yang sudah ditinggalkan tanpa penjaga, tanpa juru kunci dan hanya deretan patung-patung yang terlihat diserambi tempat peribadatan itu. Dihancurkannya patung-patung dengan kapak yang berada di tangannya. Dan beliau meningglkan Patung yang besar secara utuh. Pada lehernya, Ibrahim mengalungkan kapak.

 

Iklan Buku

Followers

Bincang-Bincang