Cari

“KORBAN” MENJELANG “IDUL QURBAN”

Sunday, 11 November 2012



Abu Fath al_Faatih[1]

Kamis, tepatnya 11 Oktober 2012, dalam perseteruan yang terjadi antara dua kubu, masih kuat di ingatan kita. Suara ledakan, teriakan, serta suara batu yang mengenai seng, sahut-menyahut. Terlihat sekawanan mahasiswa saling menyerbu satu dengan yang lain menggunakan parang, samurai sampai pistol rakitan. Hari itu adalah hari pilu. Kali itu, Rizky Munandar dan Haryanto, adalah dua orang yang harus menjadi korban. Keduanya ditikam di RS Haji Sulsel, Jalan Daeng Tata. Babak II perkelahian di ring berbeda. Mereka sempat mendapatkan pertolongan tim medis. Namun takdir mendahuluinya.
Pecahnya perang antarfakultas adalah satu bukti lagi, betapa umat begitu jauh dari al-qur’an. Setiap kelompok membangun gerakannya di atas kejahilan. Begitu hebat membuat strategi hanya untuk satu kepentingan, membela kehormatan kaumnya. Mereka marah, jika ada salah seorang diantara anggota kelompoknya dicederai. Mereka maju di barisan terdepan, dan membusungkan dada untuk saling menghancurkan. Dan kembali, korban pun tidak bisa dielakkan.
Ini adalah satu kenyataan yang telah menjadi “hujjah”[2], bahwa pokok persoalan atas umat hari ini, bukanlah pada kesenjangan politik atau pun ekonomi. Semuanya bersumber pada lemahnya aqidah dan retaknya fundamen “ilmu”. Muncul pemahaman yang keliru, yang menjadikan kebanggaan adalah pada kelompok dan keturunannya. Muncul orang-orang yang mengklaim atas kemuliaan kaum  di atas kaum yang lain. Padahal, itu merupakan sebuah kesalahan. Bukankah kampus “oemar bakrie” ini adalah pusat persiapan para pendidik yang akan mengarahkan umat ?. bukankah Kampus ini adalah menara gading, yang melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan dan figur-figur pendidikan ?.
Karena itu, perlu observasi yang mendalam, perlu penelitian yang jauh. Fenomena ini hanya sebuah ranting. Akar masalahnya jauh bersembunyi di dalam tanah. Sama halnya dengan gunung es yang nampak di permukaan, namun memiliki akar yang jauh lebih besar di bawah permukaannya. Perlu gerakan massif. Birokrasi tidak boleh hanya sekedar menjadikan punishment “DO”[3] kepada para pelaku yang menjadi otak. Karena itu ternyata tidak menyelesaikan masalah. Ia justru menyulut sumbu api yang lain. Pressure birokrasi tidak boleh hanya sekedar dalam kebijakan secara “struktural”. Namun harus diiringi dengan gerakan “kultural”. Pendekatannya tidak boleh sebatas top-down, akan tetapi harus juga bersama upaya bottom-up, dari setiap elemen. Karena semakin jelaslah. Mahasiswa yang menjadi korban, sudah demikian banyak jatuh. Akan tetapi, pertikaian tak kunjung usai. Karena semua langkah-langkah baik pencegahan maupun penanganan hanya menjadi solusi praktis terhadap dampak yang tak berujung pada perdamaian. Solusinya hanya seperti obat yang menghilangkan gejala sakit, bukan sumber penyebab sakit.
Untuk itu, diperlukan gerakan bersama. Mungkin, semua orang telah sibuk dengan urusan masing-masing. Sibuk mencukupkan diri dengan reputasi akademik atau ekstrakurikuler, namun tidak memberi peran terhadap social turbulens di kampus. Padahal inilah tantangan sesungguhnya. Persoalan pertikaian ini adalah sebuah peluang, untuk melihat siapakah para “negosiator terbaik” yang tidak hanya berkarya untuk mengikuti lomba, namun punya kontribusi dalam rusaknya tatanan sosial dalam lingkungannya.
Inilah korban menjelang “idhul qurban”. Lagi; dua orang harus kembali jatuh. Dan semua seharusnya kembali “merenung sejenak”. Ini adalah peringatan. Tidak sekedar, kampus membutuhkan iklim inteletualitas, namun juga butuh orang-orang dengan kapasitas “kecerdasan emosional”[4]. Melerai, dan mempersatukan dua kelompok yang tak pernah akur.
Ideologi kekerasan itu harus disudahi. Dan pertarungan yang paling jelas memang adalah karena ide tentang gerakannya. Itu yang harus direstorasi. Ide tentang pertikaian yang harus diselesaikan. Karena itu, fokus kita hari ini, adalah dengan berusaha membendung “ide anarkisme”, yang di belakangnya hedonisme bercokol. Harus ada upaya “de-radikalisasi gerakan”. Memproteksi mahasiswa dari ideologi pemberontakan yang membabi buta, dengan “menyentuh hati”. Karena, sekali lagi mereka butuh sentuhan hati. Layaknya sebuah lahan tandus yang telah berpuluh tahun tak terjamah hujan.
Itulah korban yang jatuh. Korban menjelang Hari Raya Qurban. Sebuah persembahan bukan untuk Rabb, Allah Azza wa Jalla. Korban yang jatuh atas nama “fanatisme buta”. Atas dasar dendam, kekecewaan dan kemarahan. Bukan atas nama syariat. Korban, yang kita sedih melihatnya. Namun kasihan atas kejahilan yang merembesi aqidah umat. Korban yang tidak diketahui kepada siapa ia harus ditujukan. Atau mungkin merupakan bunga-bunga ritual kemenangan yang berujung pada dendam yang semakin menjadi-jadi. Hingga pertikaian pun tak pernah berakhir.
Inilah, sebuah bukti nyata tentang rusaknya fundamen aqidah yang telah begitu keropos dikeroyok budaya trend. Lemahnya iman dan tidak adanya pembimbing, membuat umat terus diseret oleh pengaruh kehidupan jahiliah. Entah apa lagi yang akan terjadi, jika hal ini terus dibiarkan. Rusaknya fasilitas, kendaraan yang dibakar, atau mungkin harus menunggu korban berikutnya. Hingga kita baru sadar, bahwa sepertinya memang ada yang perlu dibenahi.
Mari kita simak satu ayat dalam Al-Qur’an. Allah mengabadikan do’a Nabi Ibrahim Alahissalam,
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian…" (QS Al-Baqarah: 126).
Hal pertama yang Nabi Ibrahim alahissalam minta adalah rasa aman, setelah itu baru rezki. Karena rezki bisa dinikmati jika dimensi rasa aman (safety) telah didapatkan lebih dulu. Oleh sebab itu, prioritas utama kita adalah “meng-aman-kan” kampus. Menjaga iklim kampus agar tetap dalam kondisi damai. Sebelum itu terwujud, fasilitas tidak akan dapat dinikmati. Kerja kita hanya akan berkutat pada perbaikan fasilitas yang terus saja rusak. Yakinlah, “Phinisi” tidak akan bisa berlayar, jika dek bawahnya dibocori oleh sebagian awaknya. Dan tidak ada yang melarangnya dengan amar ma’ruf nahi munkar[5].
Akan tetapi, kabar terakhir menunjukkan satu bukti jelas. Penemuan 2,1 Kg ganja, beberapa botol miras dan timbangan dari berita yang diturunkan di portal LPPM Profesi. Penyisiran Tim Penyidik dari Polsekta Tamalate menunjukkan kampus ini telah menjadi tempat transaksi dan distribusi Narkotika dan obat–obat terlarang. Semua itu mengindikasikan retaknya kultur kampus sebagai menara gading. Penetas pelopor pendidik yang berubah menjadi tempat transaksi Narkotika. Oleh karena itu, kita berani mengatakan, “miras-lah penyebab tawuran”. Selama itu belum dientaskan, jangan harap kampus akan aman. Berapa pun jumlah cendikiawannya.
Itulah akibat, 1.400 tahun lalu telah diperingatkan. Namun, sayang peringatan itu tidak diindahkan. Atau mungkin tidak pernah dilirik. Diketahui, atau mungkin tidak mau untuk diketahui. Atau karena kerapuhan iman, sehingga larangan-Nya justru menjadi demikian mudah diamalkan. Allah menyebutkan,
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan (QS al-Baqarah: 93).
Syariat allah telah mengatur bagaimana sikap kita kepada perkara khamar. Dan tidaklah dilarang, kecuali pasti akan mendatangkan kerusakan. Demikian sebaliknya, Jika dilanggar justru akan mengundang bencana.
Jatuhnya korban, rusaknya fasilitas, putusnya aktivitas akademik, hancurnya persatuan, yang berujung pada rusaknya citra dan identitas institusi di mata publik kini menjadi konsekuensi, ketika amar makruf dan nahi munkar tidak lagi ditegakkan. Para civitas akademika, telah larut dalam urusan masing-masing, sementara upaya perusakan umat terus mengalir, menyeret orang-orang yang tidak berpegang pada “dustur ilahiyah”[6]. Kemaksiatan merajalela, namun semua tutup mata, mulut dan telinga. Sibuk dengan urusannya masing-masing.
Hal ini mengingatkan kita dengan satu hadits nabi saw,
Dari Ibnu Umar-radhiallahu anhu- saya mendengar Rasulullah shallahu alaihi wasallam berkata, “Jika kalian telah berjual beli dengan al’inah (riba), dan telah mengikuti ekor-ekor sapi, dan telah ridha dengan tanam-tanaman, dan meninggalkan perjuangan (jihad), maka Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian. Dan tidak allah tidak akan mengangkatnya, hingga kalian kembali kepada agama kalian” (HR. Abu Daud).
Jika sistem ekonomi kita telah berbau ribawi. Dan umat islam telah disibukkan dengan urusan pribadi, dan telah merasa tenang dengan reputasi dunia, serta meninggalkan jalan perjuangan dalam amar makruf dan nahi munkar, maka kehinaan akan ditimpakan kepada kita semua. Syarat dalam menempuh jalan keluarnya adalah kembali kepada agama.
Tingginya menara phinisi, tak mampu menghentikan korban. Ia tak memberi solusi pada kerusuhan kampus. Oleh  karena itu, kampus pendidik ini, harus melakukan perbaikan metode pendidikannya. Tidak cukup dengan fasilitas. Harus ada upaya yang dibangun di atas idealisme pembentukan karakter manusia yang utuh. Karena ternyata kampus tidak lagi memanusiakan manusia, justru membuat mereka semakin dekat derajatnya dengan hewan. Tak ubahnya berakhlaq seperti hewan. Saling menanduk, atau mungkin saling mencederai dan saling membunuh satu sama lain. Potensinya bukan untuk memperbaiki, namun untuk merusak.
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS Al-A’raf: 179)
Karena itu, mari berbenah ! (Wallohu ta’ala a’lam).


[1] Koordinator Pusat Jaringan Wilayah Sulawesi, Maluku, Papua Lingkar Dakwah Mahasiswa Indonesia (LIDMI) tahun 2011-2012
[2] Argumen yang kuat                                    
[3] Drop Out (sanksi akademik berupa pemecatan atau pencabutan hak sebagai mahasiswa UNM) (Peraturan Kemahasiswaan Bab VIII, pasal 23 ayat (2) poin e, dan pasal 26)
[4] Kecerdasan Emosional meliputi empati, kejujuran, tanggung jawab, integritas dan lain-lain
[5] Mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari yang munkar
[6] Aturan Allah

ILMU DAN JIHAD

Monday, 10 September 2012

Abu Fath el_Faatih


Lima tahun. Sebuah waktu yang lama dalam pencarian jatidiri. Dari dulu, semenjak kita mengenyam pendidikan di bangku SMA, ternyata banyak hal yang belum terungkap. Dunia ini luas. Banyak hal yang masih menjadi misteri. Dan terus akan menjadi misteri jika kita tidak beranjak untuk menyingkap tabir yang menghalanginya. Ketekunan, keyakinan, kerjasama tim, integritas dan tanggung jawab, serta etika berlembaga. Sebuah  istilah yang menunjukkan kapasitas seorang manusia yang dirangkum dalam jatidiri.
------------------------------------------------------------
Jatidiri adalah misteri bagi manusia. Selama ia tidak berusaha mendapatkannya, selama itu pula ia akan terombang-ambing dalam kebingungannya. Seperti sebuah perahu di tengah laut. Ketika awaknya meneropong keseluruh penjuru mata angin, tak ada daratan. Tak jelas, kemana kapal itu melabuhkan dirinya nanti. Sang awak hanya menanti angin serta ombak membawanya ke mana akan ke tepian.
Bagi saya, dan bagi anda sebelum melangkah lebih jauh pastikan dari awal jati diri anda. Identitas serta karakter sejati yang anda miliki. Karena, sebelum kita mengambil langkah, ketetapan akan jatidiri harus menjadi hal yang paling prioritas.
Cari dan temukan dulu ia, karena ia-lah yang akan menuntun anda sampai ke tujuan. Ia seperti sebuah program. Tempat perspektif anda berpijak dan mengambil sudut pandang. Karakter-lah yang menjadikan anda memiliki esensi dan eksistensi. Kehancuran seseseorang, sampai pada kehancuran sebuah bangsa tidak lain Karena dasar berpijaknya rapuh. Karakternya gamang. Tidak punya prinsip dan wawasan falsafah.
Bagi saya. Ternyata waktu telah membuktikan. Bagaimana orang-orang yang memiliki jadiri yang kuat akan melesat lebih jauh dibanding orang yang masih kebingungan akan jatidirinya.
Lima tahun, membawa saya sampai pada sebuah kesadaran, bagaimana kehidupan itu sebenarnya. Lautan makna membentang. Simpul Bait-bait hikmah terurai setelah dipintal. Jejak-jejak prinsip dan falsafah hidup menanti orang-orang yang akan menapakinya. Berbagai tanda penunjuk terpampang di sisi kiri dan kanan jalan. Hanya orang-orang yang mencermatinya, yang dapat membaca, apa yang sebenarnya penunjuk jalan itu inginkan.
Setelah lautan hikmah dan ibrah dari setiap jejak-jejak waktu kuarungi. Setelah deretan peristiwa dalam lintasan-lintasan sejarah berputar. Dan setelah kejadian demi kejadian silih berganti masuk ke dalam relung waktu. Aku mengurainya, membentangkan dan memintalnya pada dua simpul kata. Ilmu dan jihad. Mengilmui jihad, dan berjihad dengan ilmu.
Puncak aktualisasi diri seseorang adalah dengan berusaha mewujudkan dirinya sebagai seorang yang alim. Paham akan ilmu serta mengamalkannya. Kedudukan seseorang pun di sisi allah, tidak ada yang lain kecuali hanya dengan ilmunya. Orang yang jahil akan selalu berada pada posisi paling rendah manusia. Sementara orang yang memenuhi pikirannya dengan ilmu-lah yang akan dekat kepada manusia-manusia mulia. Para nabi dan para Rasul. Setelah itu, ia berjuang dengan ilmunya. Memberantas kejahilan dan kemaksiatan, menjadi muslih kepada orang lain. Sampai kalimat tertingginya tegak. Kalaupun waktu mereka habis. Ujungnya ia mengharapkan janji manis dari sang Penepati Janji. Karena hasil yang mereka harapkan tidak mesti harus ia nikmati saat itu juga.

Hakikat Ilmu
Ilmu adalah cahaya. Sedangkan kejahilan adalah kegelapan. Dengan ilmu, kebenaran dapat terungkap dan kebathilan dapat dienyahkan.
Sangat tepatlah firman allah azza wajalla,
  
11. Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS AL-Mujadilah: 11).

Apa yang terjadi di alam realitas sangat bergantung pada bagaimana seseorang memandang hal tersebut. Seseorang yang terkena musibah, bisa saja bersedih bahkan sampai menyesali. Jika sudah melewati ambang batas, ia bisa berujung pada depresi, stress dan membawa pada bunuh diri. Akan tetapi bagi orang yang berilmu, konsepnya berbeda. Ketika musibah datang, ia adalah ujian, agar derajatnya terangkat dan semakin dekat kepada Allah. Dengan demikian, keimanannya semakin kokoh. Ia pun berhasil berpindah dari satu derajat ke derajat lain yang lebih tinggi.
Dengan ilmu seseorang terlepas dari pengaruh ungkapan kata-kata. Hatinya terlepas dari apriori dan simpati. Akalnya akan mendapat hak sebagaimana mestinya. Yaitu untuk mempertimbangkan satu hukum berdasarkan satu kaidah objektifitas. Dengan ilmu seseorang akan terbebas dari pengaruh manusia. Jika kata-kata berasal dari seseorang yang berprasangka baik, ia memandang dengan pandangan sempurna. Sedangkan jika kata-kata berasal dari orang yang berprasangka buruk, maka ia tak segan-segan membela dan mengoreksi secara mendalam. Akibatnya adalah kebaikan menjadi keburukan, dan keburukan menjadi kebaikan.
Pandangan seseorang yang berilmu adalah pandangan yang adil dan jernih. Murni dan tidak tercampuri oleh tendensi apa pun. Kebenaran keluar dari lisannya sebagaimana adanya. Jika orang mau menerimanya, maka ia bersyukur. Adapun jika tidak, maka bebannya telah ia tunaikan.
Mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat adil dan menyebarkan keadilan. Di manapun, mizan kebenaran selalu tegak. Karena kaidah yang dimilikinya memiliki landasan yang kuat. Kokoh di atas bashirah yang terang. Ia memandu dengan panduan ilmu. Dan disitulah, baru terasa ilmu itu benar-benar menerangi. Hanya saja yang bisa merasakannya juga hanya orang-orang berilmu. Sedangkan orang-orang jahil tetap dalam kubangan kebodohan dan belenggu kejumudannya.
Merekalah para pembawa pelita. Panji-panji ilmu yang memandu manusia ke jalan tuhannya, menggapai keridhaan-Nya. Dalam perkara ibadah, mereka bersemangat dalam ketundukan diri sebagai seorang abhid. Dalam usaha dan amal dunia, mereka juga mencari sesuai kadar ikhtiar yang harus ia jalankan. Mereka bukan orang-orang yang berlebihan. Sampai dalam perkara ibadah pun.mereka tetap mengambil dalil dalam pelaksanaannya. Tidak Dibangun di atas semangat raja’ yang berlebihan. Tapi mereka adalah orang yang selalu seimbang antara khauf dan raja’nya.
Pantaslah allah menyebutkan,

… Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (QS Az-Zumar:9).

Pelajaran. Usaha yang mengantarkan manusia ke alam pencerahan. Membawa mereka pada kesadaran posisinya dalam konstelasi, tuhan, alam dan makhluk lainnya. Sehingga akan terjadi sinergi. Pada gilirannya akan mengundang rahmat allah azza wa jalla, ke muka bumi.
Itulah kemuliaan orang-orang berilmu. Dan demikianlah allah menjadikan kemuliaan suatu kaum dengan kedekatan mereka terhadap ilmu.
Dalam satu hadits, nabi SAW menyebutkan,

سنن الترمذي - عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ قَالَ  ذُكِرَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلَانِ أَحَدُهُمَا عَابِدٌ وَالْآخَرُ عَالِمٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ
Dari Abu Umamah al-Bahiliy radhiyallahu’anhu berkata disebutkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang 2 orang, yang pertama adalah ahli ibadah dan yang kedua adalah orang berilmu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “keutamaan orang berilmu di atas orang ahli ibadah seperti diriku di atas orang yang paling rendah di antara kalian”. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ”sesungguhnya Allah dan para malaikat dan penduduk langit dan bumi sampai semut di dalam lubangnya dan ikan-ikan di laut bershalawat kepada yang mengajarkan agama kepada manusia” [HR. Tirmidzi]
Mengapa seluruh makhluk di alam bershalawat kepada orang-orang berilmu ?. Bahkan sampai semut-semut -yang jumlah tidak diketahui seberapa banyaknya di dunia ini- yang merayap dalam lubangnya. Bahkan sampai ikan-ikan. Bukan ikan di daerah pesisir, atau dipermukaan. Sampai ikan yang berada di dasar laut. Yang tidak lagi terjamah cahaya. Yang dalamnya ribuan kilometer. Bershalawat (mendoakan) orang-orang yang berilmu ?.
Mengapa demikian ?. sampai sebegitu agungnya orang-orang berilmu ?.
Ya, Karena hanya orang-orang berilmu-lah yang akan melindungi alam. Hanya merekalah yang akan menjaga keseimbangan alam semesta. Karena mereka paham tugas mereka. Karena mereka adalah orang yang berhati-hati. Bukan makhluk serakah dan tak bertanggung jawab. Bukan orang-orang yang jahil dan tidak paham tugasnya.
Karena itu, fitrah semesta adalah kembali Kepada kemurniannya. Di mana manusia menjalankan tugasnya dengan baik. Mengawal siklus-siklus di bumi, dan menjaga serta melestarikannya. Jika manusia tidak memiliki sifat kemanusiaan, maka celakalah jadinya. Yang ada hanya kerusakan. Yang ada hanya bencana yang datang bertubi-tubi. Bencana itu pun, manusia juga yang akan menjadi korbannya.
                
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS Ar-Rum: 41).

Semua itu Karena manusia mencampakkan hukum-hukum allah di muka bumi. padahal panduan dalam mengelola bumi, sudah allah siapkan.
Sekarang bagaimana sikap kita terhadap ilmu itu. Apa yang kita perbuat dengannya. Apakah untuk mendebati orang-orang yang jahil. Apakah untuk memperlihatkan kecerdasan, dan kepiawaian beretorika ?. apakah untuk menarik simpati manusia dan membuat mereka takjub dan bersorak-sorai ?.
Dengan ilmu, kita memikul tanggung jawab ilmiah. Dengan kapasistas keilmuwan, kita memikul amanah umat. Karena semakin berilmu, seseorang bukan seharusnya semakin puas, akan tetapi semakin butuh akan ilmu.
Imam al-Ghazali mengatakan, “semakin bertambah ilmu yang saya ketahui, semakin saya sadar bahwa semakin sedikit yang saya ketahui”.
Itulah falsafah huruf علم. Huruf  ع menggambarkan mulut yang besar. Pertanda bahwa seorang berilmu tidak pernah merasa kenyang dengan ilmunya. Huruf ل  yang bermakna kelurusan, daan ketinggian. Seorang berilmu akan selalu berada di atas pijakan yang lurus dan adil. Dan dengan keadilannya ia dianugerahi hikmah kemuliaan, dengan diangkatnya derajatnya oleh allah swt. Huruf  م memperlihatkan ekor yang menjuntai ke bawah. Menunjukkan bahwa seorang yang berilmu, semakin menundukkan hati mereka di hadapan Rabb-Nya. Serta semakin rendah hati di hadapan manusia. Pepatah mengatakan, “Jadilah seperti padi, semakin berisi semakin merunduk”.
Salah satu musuh manusia adalah syubhat. Kata Imam Ibnul Qayyim. Dalam syubhat terdapat kesamaran antara yang haq dan yang bathil, Karena sesungguhnya syubhat tersebut memakai pakaian yang haq menutupi badan yang bathil, dan kebanyakan manusia adalah orang-orang yang baik dari segi zhahir, sehingga orang yang melihat pakaian yang ia pakai, meyakininya sebagai kebenaran.
Akan tetapi bagi seorang berilmu, tidaklah tertipu. Ia mengetahui sampai apa yang ada dibalik pakaiannya, maka dia dapat menyikap hakikatnya. Menjadikan bashirah sebagai senjata yang membedah seluruh kebathilan berpikir. Mengungkap dan menyatakan kebenaran. Mengenyahkan kerancuan dan kekeliruan dalam ide dan keyakinan. Mematahkan seluruh argumen. Hingga kesesatan takluk, dan bertekuk lutut. Membersihkan segala titik-titik noda kekeliruan. Mengikis habis sudut-sudut kekacauan aqidah hingga kebenaran menjadi jelas bentuknya. Mencerabut segala syubhat sampai ke akar-akarnya. Dan tidak ada yang tersisa kecuali keindahan al-haq yang bertahta. Hujjahnya rashikh. Meyakinkan dan membawa pada jalan terang benderang di bawah obor ilmu dan bashirah.

Berjihad dengan Ilmu
Dengan kemuliaan berilmu, kita ditantang untuk mencari kemuliaan berikutnya yang lebih tinggi –mungkin-. Kemuliaan itu adalah berjuang dengan ilmu yang telah kita miliki. Kemuliaan kehidupan dengan perjuangan. Tidak ada kemuliaan hidup tanpa perjuangan. Adalah sesuatu yang tidak mungkin seseorang menjadi mulia dengan kelemahan dan kemalasannya. Adalah sesuatu hal yang tidak masuk akal, jika seseorang menginginkan derajat yang tinggi di sisi rabb-Nya, sementara ia hanya menatap masa depannya, menikmati mimpi-mimpinya, sementara tidak berlari mengejarnya.
Katakan !. Bahwa hanya dengan perjuangan kemuliaan akan datang. Bahwa hanya pengorbanan, kehidupan baru akan bermakna. Itulah jihad dan mujahadah. Kesungguhan dalam hati yang tidak dikotori dengan keinginan apa pun kecuali ihtisab akan wajah-Nya.
Itulah etape berikutnya setelah berilmu yang harus diyakini dan ditekuni. Berusaha memperjuangkan ilmu dengan segenap kemampuan dan kekuatan. Membelanya dan meninggikannya di atas seluruh ilmu lain yang bathil keberadaannya. Berjuang bersamanya hingga al-haq menjumpai kita mendatangi al-yaqin.
-----------------------------------
Tantangan kita hari ini bukan hanya dengan gerakan dan kekuasaan. Tapi juga lewat tantangan keilmuan. Tradisi keilmuwan islam hari ini telah rubuh. Tumbang, dan tidak menyisakan apa pun kecuali puing-puing warisan sejarah. Hanya saja mengkaji warisan sejarah tidak cukup. Karena ia perlu untuk dibangkitkan kembali. Ia perlu untuk dibangun kembali. Kebanggaan terhadap tradisi ilmu islam.
Menyerukan gerakan cinta ilmu. Bergerak atas dasar bashirah. Berpikir dengan ilmu yang jelas dan terang. Kemudian menyampaikannya kepada manusia. Agar mereka mengikuti kebenaran dan melepas belenggu kejumudan mereka.
Itulah yang harus kita perpegangi. Bahwa jihad hari ini adalah dengan ilmu. Jihad hari ini adalah dengan mengkaji agama. Mengamalkan dan mengajarkannya. Serta menetapi jalan itu dengan keyakinan.

52. Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan jihad yang besar.

Itulah jati diri seorang muslim. Kumpulkan pengalaman anda. Untailah ia dalam prinsip. Dan jadikan ia sebagai pijakan anda dalam mengambil keputusan. Kemudian berjalanlah hingga kemenangan anda telah raih, saat musuh syubhat telah tumbang dan enyah dari muka bumi.



Maraji’

Al-Qur’an Al Karim
Dr. Ahmad Bin Abdul aziz Al-Hulaibi, et al. 2007. Dasar Membid’ahkan orang. Surabaya: Pustaka elBa
Fariq Gasim Anuz. 2003. Tabir Hidayah. Bogor: Pustaka Imam Syafi’i

                                                                               
Telanai pura, Jambi
18 Ramadhan 1433 H/7Agustus 2012
                                                            Pkl. 09.42 WIB
                                                            Menyambung yang terputus dari kota Daeng….

TITIK-TITIK MATA AIR KESEJUKAN

Sunday, 9 September 2012












Abu Fath el_Faatih


Sejuk, dingin dan lembut. Sebuah kenikmatan ketika bisa merasakan kesegaran, melepas dahaga dalam tegukan-tegukan langsung dari mata air kehidupan. Rasanya membebaskan kekeringan dalam kerongkongan yang melilit leher. Menikmatinya, seperti membuat kita lupa dari penatnya dunia. Lelah dan letihnya seperti sirna. Hilang begitu saja.

Lebih dari 2/3 permukaan bumi digenangi air. Begitu pula tubuh manusia, 60 %-nya adalah air. Sumber kehidupan makhluk di muka bumi adalah air. Jika mereka kekurangan, tidak berselang lama, mereka berubah menjadi seonggok jasad tak berharga. Manusia, mampu untuk bertahan dalam waktu sebulan tidak makan. Akan tetapi, satu pekan manusia tidak disuplai air, ia akan mati dehidrasi. Dalam al-Qur’an, Allah swt menitipkan satu bentuk kekuasaan-Nya pada air,
ª!$#ur tAt“Rr& z`ÏB Ïä!$yJ¡¡9$# [ä!$tB $u‹ômr'sù ÏmÎ/ uÚö‘F{$# y‰÷èt/ !$pkÌEöqtB 4 ¨bÎ) ’Îû y7Ï9ºsŒ ZptƒUy 5Qöqs)Ïj9 tbqãèyJó¡o„ ÇÏÎÈ  
Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran)(QS an Nahl : 65).
Air, simbol kehidupan. Unsur yang melambangkan kesegaran, dinamika dan gairah. Dalam buku The True Power of Water, -terlepas dari perbincangan ilmiahnya- dijelaskan bahwa titik kristal air (salju) mampu  memberi respon bentuk jika setiap hari diperdengarkan kata-kata yang mencerminkan satu bentuk emosi. Titik Kristal yang selalu diberi kalimat motivasi dan positif memiliki bentuk yang utuh. Sedangkan yang selalu diberi perlakuan berupa emosi negatif, seperti marah dan kekecewaan, bentuknya menjadi rusak.
Bagi kita seorang muslim, -dan tentu dalam konteks ilmiah- kita tidak bisa mempercayai 100 % hasil penelitian Prof. Masaru Emoto tersebut. Akan tetapi kita bisa mengambil hikmah. Bahwa memang kondisi tubuh akan selalu menyesuaikan dengan kondisi emosi. Seseorang yang selalu hidup dalam kondisi emosional yang tidak stabil selalu memiliki kualitas hidup yang buruk. Demikian halnya sebaliknya. Jika seseorang hidup dalam emosi positif, maka ia akan selalu berjumpa keberuntungan.
Air memiliki peran penting dalam kehidupan. Tempat-tempat rekreasi misalnya, hampir kita selalu berjumpa dengan air. Sungai, laut, air terjun atau danau. Itulah biasanya, tujuan kita untuk liburan. Bahkan ada tempat-tempat khusus yang dibuat yang seluruhnya adalah wahana air (water boom, waterpark dll.).
Hal seperti ini sudah allah sebutkan ada dalam al-qur’an. Mari kita lihat kedalaman maknanya, dan satu lagi tanda bagaimana allah menyimpan sinyal-sinyal yang getarannya hanya dapat dibaca oleh orang-orang yang bertafakkur.
Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan saleh, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya… (QS An-Nisa: 122)
Mengapa mesti ada tambahan “yang mengalir di bawahnya sungai-sungai “ ?. Karena memang keindahan itu disimbolkan dengan air yang mengalir. Taman-taman buatan di tengah kota atau di sudut rumah, sampai wahana water boom adalah satu contoh pendekatan kita untuk memahami bagaimana syurga allah siapkan kenikmatannya.

Bersumber pada mata air
Untuk menikmati air itu, maka puncaknya ada pada mata airnya. Meneguk air langsung dari sumbernya, kesegarannya jauh berbeda dengan air yang telah bercampur di perjalanan menuju hilirnya.
Demikian halnya syurga firdaus. Mengapa menjadi puncak kenikmatan bagi orang-orang yang berada di syurga ?. salah satu alasannya, semua mata air dari seluruh jenis sungai sumbernya ada  di sana. Coba bayangkan berenang langsung dari sumber mata air.
Saya pernah berenang pada sebuah sungai dan langsung di sumber mata airnya. Rasanya jauh lebih segar dan sejuk. Airnya lebih dingin dan lebih jernih.
Tapi tahukah kita, bahwa ada satu mata air yang jauh lebih menyejukkan dibanding mata air pegunungan ?. Mata air itu ternyata tidak terletak diluar diri kita. Ia mengalir keluar dari diri kita. “air mata”. Ya, itu dia. Air yang menjadi cermin kehidupan hakiki seorang hamba. Karena ketika ia  mengalir deras, disertai isak-tangis dan merengek meminta dalam harap-harap cemas kepada-Nya adalah bukti hidupnya hati seseorang. Sementara keringnya mata dari air itu, adalah pertanda bahwa jiwa mereka. Qalbu mereka juga tengah kekeringan. Sementara kering-kerontang, menunggu titik-titik wasiat ilahi. Dalam syair arab disebutkan.
وما لجرح بميت أيلام
"Dan tidaklah mayat merasa sakit karena terluka”[1]

Dan Biarkan Allah Menyeka Air Mata Kita…
Selama ini, adalah sebuah kepastian. Manusia selalu terjatuh dalam kesalahan. Kecil atau besar. Sadar atau tidak. Akan tetapi, saat bulan yang penuh maghfirah ini datang menghampiri, Allah mengulurkan tangan-Nya untuk kita sambut. Walaupun tangan itu sering menepis tapi Allah tidak pernah berhenti mengulurkannya. Meskipun dosa-dosa kita seluas langit dan bumi, tapi ampunan Allah tidak pernah bertepi.
Tidak ada yang lebih membahagiakan tatkala kita menyadari dosa-dosa yang pernah ada, kemudian kita berencana untuk mengevaluasi dan memperbaiki diri. Tumpahkanlah air mata penyesalan itu. Biarkan dia membanjiri sepertiga malam yang hening, saat itu biarkanlah tangan Allah yang kuat dan lembut itu menyeka air mata penyesalan kita. Kemudian kitapun akan meresakan sebuh kekuatan ghaib akan tumbuh dan membawa kita ke dada pelangi, di sana hanya akan kita temukan keindahan warna-warni kehidupan yang menyejukkan, membahagiakan, yang akan membuat diri kita menjadi orang yang semakin sadar dan semakin menghambakan diri dihadapan allah.
Tundukkanlah hati, rendahkanlah diri di hadapan-Nya. Jangan biarkan ramadhan ini berlalu begitu saja. Rubuhkanlah diri, sujud ke bumi di sepertiga malam terakhir. Kuatkan azzam agar dapat bercengkrama dengan Allah di rumah-Nya di detik-detik perjalanan akhir yang menentukan siapalah finalis yang sebenarnya. Isilah pundi-pundi investasi abadi kita dengan infak, zakat dan sedekah. Semailah benih-benih kebaikan, kelak kita akan menuainya dengan sebuah kenikmatan abadi di sebuah taman, yang di bawahnya mengalir sungai-sungai !
Cobalah nikmati. Biarkan diri kita bersendirian dengan Rabb kita. Berkhalwat dengan-Nya. Dan adukan seluruh permasalahan kita kepada-Nya. Biarkan jiwa ini seperti hancur Karena melihat kebesaran allah, serta ketidakberdayaan diri kita.
Selamat beramadhan, mudah-mudahan segala kebaikan dan keindahannya bukan sekedar fatamorgana, tetapi sebuah energi yang membawa perubahan baru bagi diri dan jiwa kita, serta sebagai momentum untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Karena bukti keberhasilan ramadhan sebagai madrasah adalah ketika para alumninya berhasil setelah menyelesaikan beban kuliah mereka dan berhasil membawa peran di masyarakat.

Panam, Masjid Arfa’unnas UNRI
29 Ramadhan 1433 H/18 Agustus 2012 M
                                                                                                                                     Pkl. 14.31 WIB
Detik-detik Menyambut kumandang takbir kemenangan.


[1] Manajemen Qalbu, Imam Ibnul Qayyim. Darul Falah: Jakarta (Hal.104). Dinukil dari Diwan al Mutanabbi, (4/92-101, dengan syarah ‘Akbari). Lengkap baitnya :
“Siapa yang lemah maka kelemahan itu gampang menguasainya, dan tidaklah mayat merasa sakit karena terluka”
 

Iklan Buku

Followers

Bincang-Bincang